Rendahnya minat anak muda pada pertanian tidak hanya disebabkan karena penghasilannya rendah. Terbatasnya akses terhadap lahan, membuat anak muda memilih pekerjaan lain ketimbang menjadi petani.

Lembaga
penelitian Akatiga meneliti tentang bagaimana kaum muda terus berusaha untuk
tetap bertani. Penelitian ini menelusuri bagaimana rute yang harus ditempuh
kaum muda sampai akhirnya bisa bertani.

Studi
bertajuk “Becoming a Young Farmers: Yong People;s Pathways into Farming in
Four Countries” ini dilakukan di Indonesia, Cina, India, dan Kanada. “Mitosnya
selama ini, anak muda tidak tertarik bertani karena ketinggalan jaman, kotor,
dan sebagainya. Tetapi sebenarnya, ada tantangan yang harus dihadapi anak muda
untuk bertani. Kelompok muda ini terhambat mendapatkan akses lahan,” kata
peneliti Akatiga Fadhli Ilhami ditemui di Kantor Akatiga, Selasa 16 Oktober
2018.

Ia
mengatakan, akses terhadap lahan pertanian biasanya didapatkan setelah menikah
atau setelah orangtua meninggal dunia. Sebelum mendapat akses lahan, anak-anak
muda biasanya bekerja di bidang lain dahulu, atau bagi yang berada di pedesaan
mereka memilih pindah ke kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Menurun

Hal
itu selaras dengan data usia petani di Indonesia yang semakin tua. Dalam 30
tahun terakhir, kelompok usia petani di bawah 35 tahun menurun dari 25% menjadi
13%. Sementara petani yang berusia di atas 55 tahun meningkat dari 18% menjadi
33%.

Di
sisi lain, data BPS tahun 2017 menunjukkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
kelompok usia muda di Indonesia mencapai 14,02%, atau naik 0,58 persen dari
tahun sebelumnya. Angka itu berarti, dari 100 angkatan kerja pemuda, terdapat
sekitar 14 pemuda yang tidak bekerja. 

Dari
angka itu, Fadhli mengatakan, 18% di antaranya merupakan lulusan SMA, SMK, atau
yang sederajat. Sementara 13% di antaranya merupakan lulusan perguruan tinggi.

Jika
kondisi ini dibiarkan, Indonesia tidak akan merasakan manfaat bonus demografi
yang puncaknya pada 2030 nanti. Justru beban Indonesia akan semakin bertambah.

Khusus
di sektor pertanian, jika regenerasi petani gagal dilakukan akan menjadi
ancaman serius di sektor pangan. Lahan-lahan pertanian akan berpindah tangan.

“Biasanya
lahan pertanian akan dijual. Kebanyakan kalau sudah dibeli tidak digunakan
untuk bertani lagi, biasanya dipakai untuk membangun ruko atau lainnya,”
tutur Fadhli.

Fadhli
mengatakan, sudah saatnya pemerintah memberi perhatian khusus kepada pemuda.
Menurut Undang-Undang Kepemudaan, pemuda memiliki rentang usia 16-30 tahun.

Mekanisasi
alat

Upaya
Kementerian Pertanian untuk meningkatkan daya tarik pertanian bagi petani yaitu
dengan melakukan mekanisasi alat pertanian. Kementerian membagi alat-alat
pertanian.

“Padahal
mekanisasi itu juga menghilangkan tenaga kerja pertanian. Mekanisasi itu harus
tepat guna dan sasaran. Yang lebih penting, harus disiapkan dulu anak
mudanya,” tutur Fadhli.

Salah
satunya dengan memberi ruang yang cukup bagi anak muda untuk menyampaikan
gagasannya. Hal itu penting untuk mengurangi dominasi orang tua di pedesaan.

UU
Desa bisa menjadi pintu masuk yang bisa dioptimalkan. “Anak muda bisa
terlibat dalam pengelolaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Selama ini
keterlibatan anak muda masih sedikit,” kata Fadhli.

Ia
menambahkan, cara lainnya bisa meniru apa yang dilakukan karang taruna di Kulon
Progo, Yogyakarta. Anak-anak muda yang belum mempunyai akses lahan mulai
mengelola tanah kas desa. Dengan cara ini, anak muda tak perlu menunggu lama untuk
mulai jadi petani.*** 

Oleh: Catur Ratna
Wulandari
– Pikiran Rakyat

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2018/10/16/regenerasi-menurun-ini-penyebab-anak-muda-enggan-menjadi-petani-431691

Categories: Petani Muda